PortalJabarNews, Garut – Sabtu pagi, udara di kawasan Talangseng terasa lebih segar dari biasanya. Bukan hanya karena angin yang berembus pelan di antara pepohonan, tetapi juga karena semangat puluhan orang yang berkumpul dengan satu tujuan : merawat bumi, mulai dari lingkungan yang terjangkau oleh mereka, Sabtu (04/04).
Dalam rangka mempersiapkan peringatan Hari Bumi yang jatuh pada 22 April mendatang, sejumlah komunitas di Garut Kota turun langsung ke lapangan. Mereka bahu-membahu membersihkan dan menata area yang nantinya akan digunakan sebagai pusat kegiatan peringatan tersebut.
Komunitas yang terlibat di antaranya Sanggar Tari Jaipong *Gurilap Pangirutan* di bawah pimpinan Bapak Hendra Rianto, S.Ik bersama Bunda Santi, Abah Yanto dari *Rangkuman Pecahan Silat 12* , Bapak Yana dari *Bank Sampah Oces Pisan* , Bang Doel dari *Eco Village* , serta dukungan dari pihak UPT PUPR Kecamatan Garut Kota.
Tak sekadar kerja bakti biasa, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan lintas komunitas yang menyatukan kepedulian terhadap lingkungan. Sampah plastik, daun kering, ranting, hingga rumput liar dibersihkan secara gotong royong. Perlahan, lokasi gotong royong berubah, menjadi d ruang terbuka yang lebih bersih, rapi, dan nyaman.
Di sela kegiatan, Bapak Hendra Rianto menyampaikan bahwa kehadiran sanggar tari bukan hanya untuk berkesenian, tetapi juga untuk menanamkan nilai kepedulian lingkungan kepada generasi muda.
“Kami dari sanggar tari terpanggil untuk ikut serta menjaga alam lingkungan Talangseng agar selalu nyaman untuk dilakukan aktivitas alam terbuka” ujarnya.
Untuk itu, lanjutnya, kami mengajak anak didik sanggar ikut melaksanakan bersih-bersih lingkungan, tentunya sebagai bagian dari edukasi kepedulian lingkungan, apalagi pelaksanaan kali ini untuk persiapan peringatan Hari Bumi nanti.
Hal senada juga disampaikan Abah Yanto, pelatih Pecahan Silat Dua Belas. Dengan penuh semangat, ia bersama para muridnya ikut membersihkan dan menata area. Baginya, menjaga lingkungan adalah bagian dari pembentukan karakter.
Ia juga menyatakan kesiapan komunitasnya untuk turut memeriahkan peringatan Hari Bumi nanti, bukan hanya dengan pertunjukan, tetapi juga melalui aksi nyata.
Kekompakan terlihat jelas di antara seluruh komunitas yang hadir. Tidak ada sekat, tidak ada perbedaan peran — semua menyatu dalam kerja bersama.
Bahkan, setelah area dibersihkan, mereka duduk bersama di atas tanah yang kini tampak bersih, berdiskusi ringan, bertukar pikiran, dan merancang langkah ke depan.
Pemandangan sederhana itu menjadi simbol kuat, ‘perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama’.
Talangseng hari ini bukan hanya tentang lokasi yang dibersihkan. Ia menjadi cermin bahwa kepedulian terhadap bumi masih tumbuh, hidup, dan dirawat oleh tangan-tangan yang peduli.
Dan ketika Hari Bumi tiba nanti, kawasan ini tak hanya siap secara fisik, tetapi juga sarat makna, sebagai hasil dari kebersamaan dan komitmen menjaga alam.





